Karena Selingkuh Tak Dimulai di Tempat Tidur Tapi Saat Kau Mulai Menghapus Pesannya
Selasa, 07 Januari 2020
Edit
“Aku itu dengannya hanya berteman”
Berapa banyak dari kamu yang berlindung di balik kata-kata ini?
Karena menurutmu apa yang kamu lakukan tidaklah menjadi bagian dari
sebuah perselingkuhan.

Tidak ada sesuatu yang istimewa antara kamu dan kawan baikmu itu. Tapi benarkah kamu tidak berselingkuh?
Kalau Hubunganmu Biasa Saja, Kenapa Kamu Harus Menghapus Pesannya?
Perselingkuhan itu bukan berarti kamu harus menciumnya, berhubungan dengannya atau menjalin hubungan fisik dengannya.
Ketika kamu memutuskan menghapus pesannya, percayalah ketika itu kamu sudah mulai berselingkuh.
Karena tidak ada alasan kenapa pesanmu harus dihapus kecuali kamu tidak ingin orang lain membacanya.
Selingkuh Adalah Segala Hal Yang Tidak Akan Kamu Lakukan Jika Pasanganmu Ada di Sebelahmu
Kamu selalu berkelit bahwa yang kamu lakukan bukanlah perselingkuhan. Ini adalah perkawanan biasa yang juga dilakukan oleh jutaan orang lain.
Kamu selalu berkelit bahwa yang kamu lakukan bukanlah perselingkuhan. Ini adalah perkawanan biasa yang juga dilakukan oleh jutaan orang lain.
Sebenarnya ada hal mudah yang bisa kamu jadikan patokan apakah tindakanmu itu termasuk selingkuh atau tidak.
Ketika Kamu bilang kalian hanya menyeruput kopi sama-sama karena
kebetulan pulang satu arah. Sekarang bayangkan pasangan yang katanya
kamu sayangi, ada di sebelahmu saat itu.
Masihkah kamu melakukan semua hal itu? Masihkah kamu memilih mampir
dan bukannya meneruskan perjalanan bersama pasanganmu? Apakah semua
pembicaraanmu saat itu akan sama jika pasanganmu ada di sebelahmu?
Jika jawabannya iya, maka besar kemungkinan itu bukan perselingkuhan.
Tapi jika hatimu mengatakan kamu tidak akan melakukannya jika
pasanganmu ada, maka kamu sudah berselingkuh.
Selingkuh Dimulai Saat Kamu Berbagi Hal Di Belakang Pasanganmu
Gail Saltz, MD, Associate professor bidang psikiatri di New
York-Presbyterian Hospital mengatakan perselingkuhan dimulai ketika kamu
mulai menghabiskan energi-energi emosional kamu dengan orang selain
pasanganmu.
Akhirnya kamu berbagi hal-hal yang tidak lagi kamu ceritakan dengan
pasanganmu. Kamu bercerita pada orang lain itu, harapan masa depanmu,
mimpi karirmu, hobi jalan-jalanmu, kesenanganmu akan puisi, renungan
spiritualitasmu dan hal lainnya yang seharusnya bisa memperkuat ikatanmu
jika saja kamu bagi dengan pasanganmu. Itulah kenapa hal ini termasuk
berselingkuh.
Ketika Kamu Sudah Bergantung Secara Emosional, Pada Saat Itu Kamu Sudah Selingkuh
Pasanganmu seharusnya menjadi orang yang paling mengetahui keadaan emosimu. Kapan kamu marah, kapan kamu senang, kapan kamu sedih dan lain sebagainya.
Pasanganmu seharusnya menjadi orang yang paling mengetahui keadaan emosimu. Kapan kamu marah, kapan kamu senang, kapan kamu sedih dan lain sebagainya.
Namun seringnya yang kamu lakukan adalah lari kepada orang lain yang
bukan pasanganmu ketika kamu emosi senang atau justru sedang buruk.
Sesungguhnya inilah saat paling berbahaya dalam sebuah hubungan.
Menurut psikolog Janis Abrahms Spring, PhD, pengarang buku After the
Affair: Healing the Pain and Rebuilding Trust When a Partner Has Been
Unfaithful, ketergantungan emosional seperti ini sangat sulit untuk
diputus.
Satu-satunya cara mengakhirinya adalah dengan memutus hubungan
emosional itu secara total. Tidak ada kompromi setengah-setengah dengan
membiarkan celah hubungan masih bisa terjalin.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Gail Saltz seperti dikutip dari
WebMD. Menurutnya Kamu harus mengakhiri hubungan itu, dan tidak ada
setengah-setengah.
Jika kamu tidak mungkin memutus hubungan total (karena hubungan
profesional pekerjaan) dengan orang tersebut, nyatakan secara tegas
bahwa kamu tidak mau lagi melakukan hal tersebut (bercerita, berbagi)
dengannya.
Tak Mau Memutus Silaturahmi Bukan Berarti Kamu Bebas Bercerita Apa Saja
Ketika pasanganmu memintamu mengakhiri hubungan dengan “kawan” itu, alasan paling klasik yang sering digunakan adalah “aku tidak ingin memutus silaturahmi”.
Ketika pasanganmu memintamu mengakhiri hubungan dengan “kawan” itu, alasan paling klasik yang sering digunakan adalah “aku tidak ingin memutus silaturahmi”.
Kalimat ini terdengar mulia. Namun bukan berarti menjadi pembenar
bahwa kamu boleh terus-terusan berbagi cerita dan perasaan dengan semua
orang bukan?
Ada beda tegas antara menjaga tali silaturahmi dan tergantung secara emosional kepada orang lain.
Ketika Kamu Membelanya Mati-matian Di Saat Pasanganmu Rela Mati Untukmu
Untuk dia yang kamu sebut kawan biasa itu, kamu rela berkelahi dengan pasanganmu. Mengatakan hal-hal buruk bahwa pasanganmu sakit dan terlalu mengekangmu.
Untuk dia yang kamu sebut kawan biasa itu, kamu rela berkelahi dengan pasanganmu. Mengatakan hal-hal buruk bahwa pasanganmu sakit dan terlalu mengekangmu.
Coba tanyakan pada dirimu, inginkah kamu membela pasanganmu di depan
kawanmu itu? Pernahkah kamu menyampaikan bahwa kamu tak bisa berhubungan
karena pasanganmu keberatan?
Jika tidak, bukankah hubungan itu menjadi berat sebelah? Siapa yang sebenarnya pasangan sejatimu itu?